About Me

header ads

Cerpen: Sasar


Sasar


Lima orang teman itu tengah nongkrong di salah satu kafe terkenal di ibukota, mereka tengah membicarakan rencana liburan mereka yang akan diadakan pada hari minggu. Anton, Ronny, Dea, Fahmi dan Indah duduk di meja nomor dua belas, di depan mereka sudah tidak lagi mengepul masing-masing secangkir cokelat karena terlalu lama didiamkan.

"Gue nggak setuju." ujar Dea.
Indah mengangguk, "Gue juga." Dea ikut menimpali.
"Gue udah tebak bakalan kaya gini kalau ngajak kalian, tapi biar bagaimanapun kalian harus tetap ikut. Lagian jarang-jarang pula kita bisa liburan bareng." kata Anton.
"Kalian tenang saja, kami bertiga sebagai lelaki pasti akan menjaga kalian." kata Fahmi.
Ronny mengangkat tangan, setelahnya ia menunjuk ke arah Fahmi. "Nah, gue sependapat sama Fahmi. Biar bagaimanapun, kalian yang terpenting." katanya penuh semangat.

Indah dan Dea saling berpandangan, setelahnya mereka berbarengan mengangguk dan rencana itu pun tinggal menunggu hari untuk dijelangi.

***

Mobil jip itu menuruni turunan sebelum berhenti di pinggiran jalan yang tergenang air dari danau di mana ada air terjun mengalir deras dan keindahannya serupa fatamorgana. Tidak ada satu pun dari kelima orang itu yang tak takjub melihat panorama itu, mereka mengabadikan keindahan dengan ponsel genggam masing-masing.

"Gila, di sini aja indah begini apalagi di atas nanti!" seru Anton penuh semangat.
"Gue jadi nggak sabar pengen ke sana." kata Ronny.
Fahmi menepuk pundak Ronny, "Memangnya kamu tahu tempatnya?" tanyanya penasaran.
"Ya, nggak sih." jawab Ronny seraya menggeleng kecil.
"Mamang di mana sih tempatnya?" tanya Indah.
Anton menunjuk ke tanjakan landas di mana di atasnya ada sebuah bukit dan terlihat beberapa rumah warga meski dari jarak itu terlihat amat kecil. "Kok gue jadi ragu ya..." gumam Dea.
Anton menarik lengan Dea, "Udah, ngak apa-apa. Ayo masuk!" ajak Anton.

Mereka pun kemudian masuk ke dalam mobil dan mobil jip itu kembali berjalan meninggalkan jalan yang tergenang air, mereka berjalan menuju bukit yang penuh sesak akan pohon pinus.

"Lo yakin ini tempatnya, Ton? Kok sepi amat?" tanya Ronny setelah mobil Anton berhenti di tanah lapang.
Anton mengangguk yakin, "Ya. Desa ini memang sudah lama ditinggalkan penduduknya." jawabnya.
"Apa!!!" kali ini hampir semua orang kecuali Anton sontak berteriak sembari menoleh ke arah Anton.
"Maksudnya desa yang sepi?" tanya Fahmi.
"Desa yang terbengkalai." tambah Indah.
"Desa hantu." ke kata yang dilontarkan Dea membuat suasana menjadi tidak enak.
Air muka Anton seketika berubah, "Kalian ini apa-apaan, sih? Santai aja kali. Ingat, kita ke sini buat liburan, buat cari kesenangan. Jangan mikir yang macam-macam." kata Anton penuh penekanan.

Anton kemudian berjalan menuju desa diikuti keempat temannya yang kompak saling memandang satu sama lain.

"Kalian lihat-lihat saja dulu, gue mau ke sana sebentar." kata Anton menunjuk sebuah percabangan jalan.

Anton dan Ronny memilih untuk memasuki rumah warga, di sana memang benar-benar tidak ada kehidupan. Segala sesuatunya ditinggalkan, entah apa sebabnya. Sementara Indah dan Dea memilih untuk berjalan menuju puncak bukit di mana terdapat warung-warung di kiri kanan jalan di bawah naungan pohon pinus.

Sementara Anton hanyut dalam dunia sendiri di sisi lain puncak bukit sembari merentangkan tangan dan memejamkan mata menghadap hamparan lautan awan di depan matanya. Ia menghirup nafas dalam-dalam, ia berharap bisa tinggal di sana selamanya.

"Sudah siap menuju puncak keindahan?" tanya Anton ketika semua sudah kembali berkumpul.
Tidak ada jawaban dari seorang pun, semuanya hanyut akan pemikiran sendiri. "Baiklah, mari kita ke sana!" seru Anton sembari menunjuk ke arah puncak bukit.

Anton pun berjalan diikuti oleh keempat temannya, langkahnya baru berhenti ketika sampai di puncak bukit di mana dunia ada di bawah mereka. Di sana juga ada sebuah bangunan sekolah yang terbengkalai dan intuisi Anton mengatakan ia harus ke sana.

"Lo mau ke mana, Ton?" tanya Ronny.
Anton menunjuk ke bangunan sekolah itu, "Jangan, Ton." kata Ronny.
Anton sontak berbalik badan, "Kenapa?" tanyanya dengan dahi berkerut.
"Serem." jawab Ronny.

Dea dan Indah yang sesaat dipandangi Anton mengiyakan meski tanpa berkata-kata, sementara Fahmi terlihat sibuk mengabadikan momen. Namun Anton masih saja kekeh ingin menuju ke bangunan itu, maka ia pun menuju ke sana sekalipun sendiri.

Anton membuka gerbang yang sudah dipenuhi lumut itu, ia kemudian masuk ke dalam bangunan. Di sana ada beberapa ruang kelas dan koridor, ada juga sebuah lapangan yang cukup luas. Di antara ke semuanya, Anton memilih untuk memasuki ruangan yang letaknya di pojokkan.

"Nggak ada apa-apa." kata Dea.
Anton terkesiap dan sontak menoleh, "Sejak kapan kalian di sini?" tanya Anton pada Dea, Indah dan Ronny yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Sejak..." kata-kata Ronny menggantung, "tadi." tambahnya sembari tersenyum.

Sementara itu di tempat lain...
Fahmi tampak terkesiap ketika seorang anak kecil menabrak dirinya yang tengah asyik berfoto ria, "Hati-hati dong, dik." katanya setengah mengeram.

Anak kecil itu menyodorkan sebuah kertas lusuh kepada Fahmi, di sinilah keganjilan itu mulai Fahmi sadari. Bagaimana tangan anak itu putih pucat dan kotor, Fahmi segera menerima kertas itu tanpa berani menatap wajah si anak kecil.

"Bukankah kata Anton sudah tidak ada lagi orang di desa ini?" tanya Fahmi pada dirinya sendiri.
Ia mengesampingkan pemikirannya sejenak, ia lantas membuka lipatan kertas lusuh itu. "A-apa ini...?" tanya Fahmi terbata-bata.

Kertas itu bergambar sesosok makhluk hitam yang tinggi besar dengan sepasang mata merah menyala, di depan makhluk tersebut terlihat gambar orang-orang yang jauh lebih kecil dibandingkan makhluk hitam tersebut.

"Maksudnya apa ini?" tanya Fahmi seraya melihat ke bawah, namun ia tak lagi menemukan keberadaan anak kecil yang memberikannya kertas lusuh tersebut.
Nafas Fahmi seolah tersekat, "Apa-apaan ini?" gumam Fahmi.

Fahmi segera berlari menuju ke gedung sekolahan tempat di mana teman-temannya berada sembari menenteng kamera dan kertas lusuh. Setelah Fahmi masuk, gerbang sekolah itu menutup dengan sendiri.

Sementara itu...
Mereka berempat terpegan melihat gambar pada papan tulis. Di sana ada gambar sesosok makhluk hitam tinggi besar sementara di depan makhluk itu ada orang-orang dengan air muka terisi kesedihan.

Suara langkah kaki Fahmi memecah keheningan saat itu, "Teman-teman, kalian harus melihat ini." kata Fahmi dengan nafas terengah-engah.
Tercenganglah Fahmi ketika melihat gambar di papan tulis yang sedang dipandangi keempat temannya, "Gue merasa nggak enak deh." kata Dea.
Ronny mengangguk, "Gue juga." ia menimpali.
Sementara itu Indah malah terisak, "Gue pengen pulang." rengeknya bak anak kecil.
"Kalian lihat ini deh!" kata Fahmi menyela kekhawatiran mereka.

Mereka pun mengerubungi gambar yang Fahmi perlihatkan, tidak ada yang tidak terkejut dengan gambar yang sama persis dengan gambar yang ada di papan tulis itu.

"Jadi, gimana nih?" tanya Indah yang semakin panik.
"Keluar, buruan keluar!!!" teriak Anton.

Mereka pun berlari keluar ruangan kemudian menuju koridor dan gerbang, namun mereka mendapati gerbang itu telah tertutup dan seperti apa pun usaha untuk membukanya semua percuma.

"Apa kita akan di sini selamanya?" tanya Ronny dengan nafas tak beraturan.
Fahmi menggeleng, "Nggak. Saya nggak mau!!!" teriaknya. Bahkan Fahmi yang kalem pun sekarang telah berubah panik seperti teman-temannya.

Tak berselang lama, dari arah belakang terdengarlah tangisan orang-orang, anak kecil dan apa saja berbaur menjadi satu kesatuan. Mereka pun perlahan menoleh. Mereka terkesiap untuk yang ke sekian kalinya melihat orang-orang yang memakai baju lusuh tengah menangis sementara di belakang mereka berdirilah sesosok makhluk hitam tinggi besar dengan sepasang mata menyala, sama persis seperti apa yang tergambar pada kertas dan papan tulis.

"Tolong!!!"

Terdengar teriakan itu terlontarkan secara bergantian, meski begitu tidak ada yang pernah datang untuk menolong mereka.

Selesai.



Aris Setiyanto,
lahir dan tinggal di kota kecil namun indah bernama Temanggung di Jawa Tengah. Ia sangat menyukai tokoh Crayon Shinchan dan segala hal yang berbau Jepang. Novel pertamanya, Good bye Tears. Novel keduanya, Impian Semu Wiro. Saat ini masih aktif menulis di blog arisnohara.wordpress.com dan berusaha sekuat tenaga dengan hembusan angin, terus melaju terbang.

Posting Komentar

0 Komentar