Latest Articles

By / Sabtu, 22 Juni 2019 / No comments

Puisi: Rinduku Berseteru Dengan Waktu

memuisikan puisi rindu


RINDUKU BERSETERU DENGAN WAKTU


Aku rindu pada seraut wajah ceriamu
Yang tertanam akhlak cantikmu
Suara canda tawa khas darimu
Yang melukiskan senyum di wajahku

Aku rindu segalanya padamu
Tetapi rinduku tersipu membisu
Pada waktu meminta dua raga bersatu
Antara aku dan kamu menyatu

Padamu aku malu mengatakan rindu
Tetapi aku mengaku ingin bertemu
Mendiskusikan rasa yang tersangkar waktu
Melepaskan cerita yang terpenjara rindu

Rasaku kini terbelenggu pada jarum jamku
Berputar memendam asa padamu
Detik menit menanti waktu bertemu
Padamu rindu tertuju buatku candu

Jeneponto 2019



PADAMU KULABUHKAN INDONESIA

Wahai kaum muda generasi emas negeri
Laju Indonesia di bawah kendalimu
Siapkan taktik jitu hantarkan ibu pertiwi
Lanjutkan cita para patriot pendahulu

Dahulu mereka siang malam terjaga
Bambu adalah senjata teman bersiaga
Tak peduli pelor merobek dada
Rela berkalang tanah demi kata merdeka

Kini masanya engkau generasi emas negeri
Membekali diri dengan berilmu
Persembahkan prestasi untuk negeri
Tak perlu lagi angkat senjata bambu

Teruslah bergerak membuat gebrakan
Selama nyawa bersemayam dalam raga
Tetaplah maju siap berlaga
Melintasi berbagai negara

Terbang mendunia
Mengibarkan sang dwiwarna
Raih cita membuka gerbang dunia
Bersama garuda maju melegenda

Jeneponto, 20 Maret 2019




PAHLAWAN TAK DI KENAL

Pahlawanku yang tak di kenal
Tekadmu perjuangkan negeri ini
Gigih berambisi menghabisi mereka
Mereka penjajah yang mencoba meraja

Pahlawanku yang tak di kenal
Tekadmu perjuangkan negeri ini
Mengusir penjajah dari bumi pertiwi
Telah pergi berkat dedikasimu memerangi

Pahlawanku yang tak di kenal
Engkau gugur di medang perang
Terkenang tanpa menyandang nama
Gelar pahlawan tersemat padamu pejuang

Semangat juang sang proklamator
Mengalir dalam darahmu mengukir sejarah
Semoga engkau tenang di peristirahatan
Jasamu akan selalu terkenang sepanjang zaman

Jeneponto 2019


MENGENANG YANG MATI

Menanti detik-detik memasuki bulan suci
Sepasang mata menatap indah rembulan
Beratap langit gulita dirantai kesunyian
Menyendiri bernostalgia menyita sepi

Suara malam terdengar meremangkan
Kegelisahan mulai menggelitik tubuh
Seakan menolak peristiwa yang menyinggahi ingatan
Membuat detak jantung ini berdenyut cepat

Kelopak mata mulai mengalirkan air bening
Sebening embun yang membasahi jejak kehidupan
Menumbuhkan pohon kerinduan pada jasad yang terbaring
Tanpa nyawa tinggal tulang-tulang tertimbun tanah

Nyatanya mereka telah tiada
Tetapi mereka sebenarnya ada
Berkumpul bersama dalam satu ruang
Ruang yang kuberi nama ruang ingatan

Jeneponto, 5 Mei 2019



SERANGKAI PUISI UNTUKMU

Serangkai puisi menyatu doa tertuju padamu bunda
Sebatang asa berbuah temu kelak di jannah-Nya
Bukti wujud cinta mengakar melalui bakti
Hingga denyut nadiku berhenti

Dahulu ketika aku bayi
Engkau setia menemani di sisi
Dalam tidur lelap engkau terbangun siaga
Menenangkan kala air mata tumpah seketika

Hingga kini engkau telah menjadi sandaran
Jiwa yang rapuh lelah di terpa cobaan
Menjadi ruang tempatku berkeluh
Pembangkit kala terjatuh

Semangatmu tiada kenal lelah
Mengajarkan aku untuk selalu tangguh
Dari aliran peluhmu yang membasahi perjuangan
Tiada kata lelah terdengar darimu di setiap pengorbanan

Bunda karenamu dan Ayah langkahku jauh merantau
Meraih cita-cita mengukir senyum di wajahmu
Semoga rezeki melimpah Allah mengaruniai
Memberangkatkanmu ke Tanah suci

Terima kasih Bunda
Terima kasih Ayah kasihmu sepanjang masa
Jika ada kata menggurat memedihkan sukma dariku
Kata maaf menyudahi serangkai puisi yang tercipta untukmu

Jeneponto, 5 Maret 2019




Nur Amin Akbar lahir pada tanggal 16 September 2000 merupakan putra dari pasangan Patta Nawir dan Masdawati, tinggal di Bontoa Kel. Tonrokassi Timur Kec. Tamalatea Kab. Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan.

Buku antologi puisi pertama berjudul “Tirai Cinta Mega Aksara”, kedua dengan judul “Diam Yang Bersuara” dan ketiga dengan judul “Kelopak Cinta Bidadari”.
Serta antologi puisi ke empat dengan judul buku” Menenun Rinai Hujan” bersama  Sapardi Joko Damono dan para penulis terpilih Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow @memuisikan

About Me

Instagram

Sidebar Posts

Popular Posts

Category