About Me

header ads

Puisi Sapaan Anak Jalan

puisi kehidupan memuisikan.id
ilustrasi: memuisikan.id


Puisi: Sapaan Anak Jalan

Menyuarakan aspal jalanan kelabu, itulah diriku
Dengan hidup berlalu tak tentu
Yang menghidupkan diri lewat tegaknya lampu merah
Mengisi hidup sendiri
Berlaga pentas dengan kejamnya dunia
Menghidupi perut lapar
Lewat ceceran makanan sisa tikus-tikus malam

Bilaku berjalan adakah sudi jatuhnya
Sedikit pandangan ke wajahku
Mengakui bahwa aku juga ada seperti mereka
Mengakui sosokku bukan hanya makhluk hina bumi
Yang menjijikkan seperti belatung di jasad makhluk busuk

Karena aku manusia, sama seperti mereka
Sama seperti kalian semua
Yang ingin adanya disadari
Yang meminta sekelumit asa hati, lambang peduli
Membantu aku di sini, di dunia ini
Melewati masaku di jalanan, di emperan toko
Di selokan hitam pengisi sudut kota dan di tumpukan sampah makanan sisa

Sembari berharap hadiah Tuhan
Yang kan membawaku pada perubahan terbaik
Penutup kata terakhirku
Terimalah salam hati dan hidupku
Sapaan diri yang tak berarti
Sapaanku pada kalian semua
Sapaan anak jalanan

Dewinta Garini, Penyair beralamat di Panti Asuhan Aisyiyah, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Dapat bersua maya melalui: https://www.instagram.com/dniyanov


Puisi: Lampu Merah


Keluar dari kandang gerbangku
Berjalan dengan ritme penuh nafsu
Mata nakal mencari mangsa
Telinga siap menangkap gelombang suara

Deru mesin mulai murka
Jiwaku terpaku kaku
Mulut terkancing kelu
meleleh dari kutub membanjiri tubuh

Bulat merah tepat ramalan
Satu per satu menjejali pikiran
Padanya sang bujangan
Ujung kaki hingga ujung rambut jadi perhatian

Tinggi putih nan menawan
Terampil kucuri kesempatan
Penuh khayal berboncengan
Ah, sejenak beradu pandang

Sialan!
Berbelok pindah haluan
Tanpa pesan
Tanpa tawaran

Di pertigaan jalan, lampu merah tak henti-hentinya bercerita


Kebumen, 30 Agustus 2018

Lulu Cantika, atau akrab dipanggil Lulu. Lahir di Kebumen, 2 Oktober 2000. Si melankolis ini punya hobi menyanyi. Alamat emailnya : cantikalulu02@gmail.com Jejaknya juga dapat dilacak di Facebook: Lulu Cantika, Instagram: https://www.instagram.com/lutika_02


Puisi: Sendu

riuh jemari memandang riang
tertawa berbisik aksara tanpa kata
sesosok pujangga terbawa asa
siapa dia
mata tanpa rasa
hati tanpa gelora
aku hanya terbawa
saat mata ini bisu terhadap cinta
saat hati tertutup rindu
kubertanya padamu wahai pemilik senyumku
siapakah sendu itu
siapakah harum aroma itu

Novia Afifatur Azizah, kelahiran Blitar 20 November 1997. Dapat bersua maya melalui: https://www.instagram.com/noviaafifa/


Puisi: Tenggelam

Sesatku temaram sepi
Bergelut dengan ego berapi
Merangkul jiwa hilangkan mimpi
Terjamah fantasi tak bertepi

Ruang dan waktu menjadi fana
Beraduk menjadi satu wahana
Tak terpikir akan realitas
Masa kini menjadi tercipta

Berkreasi dengan takdir
Berlari bersama angin mengalir
Menunduk berselimut duka
Terkubur dalam suka

Adol Febri, penulis berminat untuk menulis karena mengikuti work shop ibadah puisi yang diselenggarakan oleh FKY dengan pembicara Joko Pinurbo karya yang telah dibukukan di buku Allure dari penerbit Ellunar dengan judul Antara Aku dan Wanitaku. Bersua maya melalui: https://www.instagram.com/adolfebri

Posting Komentar

0 Komentar