About Me

header ads

Puisi suatu hari - u.l


memuisikan, kirim puisi



Aku

Setapak ini…
Membuatku berdiri tanpa lelah,
Menatap tanpa takut berpikir,
Bagaimana aku tanpanya suatu hari nanti
.
Aku bangga padaku…
Bangga pada kerasku
Yang sangat menguntungkanku,
Sang penyelamat dari kekecewaan terdalam.

Hai aku…
Sapaku di penghujung malam,
Sambil menutup mata,
Begitu caraku.

Itu kulakukan,
Sebagai saksi sekaligus bukti,
Bahwa aku berdamai,
Pada setiap tersangka.

Lalu, aku ?
Aku selalu meletakkan diriku sebagai korban

Menjadi seorang korban itu melegakan,
Tak punya penyesalan telah menyakiti,
Tak punya beban karena mengetahui tanpa menolong,
Cukup melakukan segalanya yang kau bisa, setulus itu !



Kita

Lahir pada suatu hari
Dan berharap tak akan ada akhir
Angan yang kadang mengalihkan
Padahal kita tahu.

Tapi begitulah kita menentang waktu berlari sampai detik tak mengikuti,
Bagiku dan bagimu,
Setiap hari adalah suatu hari di mana kita terlahir,
Melengkapi, mengasihi, dan menerima yang telah bertakdir.

Lalu apa kabar dengan tanyaku dulu ?
Tentang bagaimana badai itu terbentuk jika kita penuh cinta ?
Bagaimana ada kecewa dan murka merana jika rindu selalu menyentuh ?
Kini aku tahu jawabnya…

Mereka adalah segala rasa,
Kumpulan dari seluruh penjuru kasih…
Mereka tumbuh dan berkembang bersama,
Sifat mereka penuh uji,
Hanya untuk satu tujuan,
Yaitu menyatukan .


Teman seperjalanan

Hey apa kabar ?
Setelah semua kisah,
Kita berputus asa,
Untuk bersama dan memilih menepi.

Jangankan melanjutkannya,
Mengingat kemarin pun aku telah tersesat,
Seakan aku sang buas yang terlepas di pusat kota,
Semua orang takut melihatku, bahkan tak sudi berbagi makanan.

Aku sekarat !
Lalu aku teringat pada sebuah pepatah klasik,
Tak ada penolong sebaik dirimu sendiri,
Selama dalam dirimu ada tuhanmu..

Aku mulai menanamkan, dan membiarkan itu tumbuh menjadi prinsipku,
Kemudian terlahir kembali,
Kini aku menemukan teman dan jalanku di mana pun aku berada,
Tapi, suatu hari nanti aku akan kembali dengan setumpuk dendam tanya.


Saudara

Di penghujung senja,
Di saat semua takut berkeluh kabut,
Bahkan tak ada bintang,
Yang berani menemani sang bulan.

Di saat yang sama,
Tanya di benakku,
Apakah mereka baik baik saja ?
Apakah ini akhir dunia ?

Tak ada kejelasan sampai esok menjawabku,
Aku melewati jalan yang menjadi setapak karena terhempas,
Aku menyusuri orang orang yang terbaring,
Tanpa ingin sadar bahwa mereka sudah tak hidup lagi.

Aku terus menyusuri tanah yang bersellah detik masih menggetarkan langkah,
Aku mencari saudaraku terkasih,
Ia mungkin saja pergi ke suatu tempat,
Untuk bersembunyi dari maut tanpa jeda itu.

9 bulan kini,
Aku masih mencarimu,
Kau belum kembali,
Dan mungkin tak kan pernah…

Kini aku yakin,
Tempat yang kau temukan sangat damai,
Hingga tak ingin pulang,
Walau hanya memberi kami kesempatan memelukmu.

Atas segala yang telah bertakdir,
Aku meminta maafmu,
Maafkan upaya yang payah ini,
Maafkan bahwa mengenangmu harus sepedih ini, kak.

Suatu hari,
Senja 7,4 sr,
28 September 2018,
Di palu.


Semesta

Bila semua rindu ini adalah hujan,
Mungkin bumi ini akan tenggelam,
Bila semua pilu ini adalah dedauan,
Mungkin aku akan memilih terbang.

Terbawa angin,
Bebas dan lepas,
Dari pada harus jatuh terinjak,
Bahkan sebelum mengering.

Kesimpulannya adalah,
Aku terlalu takut untuk mati,
Dan terlalu malu untuk hidup,
Begitulah tepatnya.

Senja saja muak,
Dengan kerumitan dunia,
Ia hadir sangat singkat bukan ?
Walau telah menjadi bagian semesta yang terindah.

Apalagi aku ?
Bisakah aku enyah saja tanpa benar benar pergi,
Agar mudah bagiku untuk kembali jika suatu hari nanti,
Aku siap menghadapi segala kegilaan ini.





Hai, saya u.l
Saya anak bungsu dari lima bersaudara, kecintaan saya pada kata kata indah, di mulai sejak SMP, dan berlanjut ke SMA saat menjadi ketua mading di osis. Saya beralih cukup lama dari puisi dan cerpen, saya mulai senang berbahasa lewat gerak yaitu menari, dan berkata lewat nada yaitu bernyayi, bahkan menciptakan lagu sendiri, saya yakin apa pun caranya, emosi harus sampai. Kini aku kembali menyelami, dan menemukan ruang pikirku, tanpa beralih lagi. Terima kasih “memuisikan” Kalian adalah ruang baru untukku.

Posting Komentar

0 Komentar