About Me

header ads

Puisi Wanita - Zsazsa Nahrasiyah

memuisikan, puisi ketuhanan, puisi wanita


Wanita

Aku melihat mereka. Para wanita.
Mereka bermain api, api yang tak dapat dipadamkan.
Mereka takut.
Takut akan karma dan juga akan dosa.
Mereka membiarkan keegoisan menguasai diri mereka.
Mereka mencintai apa yang tidak seharusnya mereka cintai.
Sulit bagi mereka untuk menahan diri dari cinta yang tidak abadi.
Mereka telah menyakiti saudari mereka.
Mereka menyesal.
Dan engkau sang pencipta, akhirnya datang memberi pengampunan kepada mereka yang meminta ampun.
Namun bagaimana bila beberapa dari mereka melakukan dosa yang lebih dari itu?
Bukan dosa karena menyakiti saudari mereka.
Tetapi menyakiti engkau, sang pencipta.
Aku mengaku.
 Aku adalah salah satu dari pembangkang bodoh itu.
Tetapi mengapa engkau biarkan aku menyakitimu.
Aku dengar kau sudah menuliskan takdir kami para manusia di bukumu.
Apakah takdir yang kau tulis untukku adalah untuk menyakitimu?
Jangan salahkan aku jika pada akhirnya aku lebih memilihnya dan tuhannya.
Karena ini takdir yang kau tuliskan untukku.

Manusia

Kau mengeluh soal kekuranganmu setiap harinya.
Seolah-olah semuanya salah Tuhan.
Sadarkah kamu?
Kamulah yang salah berkiblat.
Berkiblat kepada orang-orang yang bahkan bukan seutuhnya ciptaan Tuhan.


Pesan dari Tuhan
Temanmu  mungkin akan membocorkan rahasiamu.
Tetapi tuhanmu tidak.

Surga sang dewa

Oh, kau lagi.
Aku mohon padamu.
Berhentilah mencoba membawaku ke surgamu.
Surga sang dewa jauh lebih indah.

Air mata
Air mata.
Kumohon pergilah dari hidupku.
Biarkan sang senyum yang menggantikanmu.
Atau akan kusuruh kematian menjemputku.

Permohonan
Dewa.
Jadikan aku benda mati di kehidupan selanjutnya.
Karena aku sudah terbiasa hidup, namun mati.




Zsazsa Nahrasiyah, panggil saja zsazsa. Tidak ada apa-apa yang perlu diketahui tentang saya. Yang pasti menulis adalah satu-satunya alasan untuk saya bertahan hidup.  Kalian bisa baca tulisan saya di https://www.wattpad.com/user/realzsatan dan Instagram: realzsatan


Posting Komentar

0 Komentar