About Me

header ads

Curhat: Kembang


memuisikan, curhat, cerita


Pada hari raya yang ke lima, entah tanggal berapa itu yang pasti saya benar-benar lupa pun tidak mau mengingatnya. Saya dan kelima teman saya; Furon, Mif, Friska, Via dan Fa'ah, mendaki gunung di Wonosobo bernama Gunung Kembang. Gunung dengan ketinggian 2340 meter di atas permukaan laut ini menjadi tujuan kami setelah berdebat gunung mana yang akan kami jadikan tujuan. Sekalipun saya saat itu kepingin sekali mendaki Gunung Prau, tapi apalah daya, orang yang ingin mendaki Gunung Prau hanya dua orang termasuk saya. Jadilah saat itu harus berlapang dada dan menuruti kata mereka.

Beberapa perlengkapan seperti tenda, sleeping bed dan perlengkapan lain telah disiapkan pak Won (nama panggilan akrab Furon) dan Via, jadi kami yang ada di rumah hanya perlu menyiapkan keperluan kami masing-masing. Beruntunglah kalian jika memiliki teman seperti pak Won yang amat rajin dan baik hati. Arigatou gozaimasu, pak Won.

Kami berangkat sore hari, lagi-lagi saya terlupa, kali ini tentang jamnya. Entah apa yang mengisi benak saya, yang pasti saat kami berangkat kami telah melaksanakan kewajiban kami. Karena saat itu masih hari raya, jadilah jalan Temanggung-Wonosobo sangat ramai. Meski begitu, para rider memacu kendaraannya kencang bagaikan tak pernah ada semua kemacetan dan kebisingan kota saat itu.

Ketika segala persiapan telah selesai dan kami hendak berangkat, saat itulah keraguan itu timbul di hati saya. Bagaimana tidak? Sedang tepat sehari yang lalu cerpen saya yang berjudul "Pendakian Terakhir" dimuat di media yang mana cerpen tersebut menceritakan bagaimana peristiwa-peristiwa tragis yang dialami seorang pendaki hingga akhirnya pendaki itu meninggal. Seorang kawan yang saya ceritakan justru tak acuh, seolah saya pun harus sama tak pedulinya pada cerita yang memang hanya cerita. Di jalan menurun, tepat di mana terdapat kebun teh di kiri dan kanan jalan, keraguan itu terjawab sudah. Fa'ah yang saat itu mengendarai motor hampir saja menabrak teman Miftah dan Frieska yang diboncengnya. Fa'ah mengerem mendadak, tak urung saya dan dirinya pun terjatuh. Saya melihat Fa'ah melayang sesaat sebelum ia terjatuh dan menimpa motor yang menimpa saya. Saat terjatuh itu saya masih sempat bertanya pada Fa'ah, "Apakah kamu tidak apa-apa?" tanya saya, sementara saya sendiri setelah itu baru tersadar bahwa sayalah yang paling terparah dan harusnya mendengar pertanyaan itu.

Pak Won dengan sigap menolong kami, ia mendudukkan aku di rerumputan dan menyuruhku untuk beristigfar sembari memberikan air putih. Para gadis panik, terlebih ketika mereka melihat tangan saya yang lecet dan berdarah dan terus bergetar. Namun ada yang lebih mengerikan dari semua itu, adalah kaki saya yang terus saya pegangi. "Bagaimana caranya mendaki dengan kaki seperti ini? Apa saya bisa? Ah, mungkinkah saya harus menunggu di Base Camp saja?" dan pertanyaan-pertanyaan itu terus lahir di benak saya.

Setelah memastikan semuanya membaik, pak Won menyuruh saya dan Fa'ah untuk kembali naik motor. Tentu saja saya naik di motor yang berbeda dan Fa'ah tidak lagi di depan. Sial, saat itu kami harus tersesat lumayan jauh. Bukan tersesat juga sih namanya, hanya saja kami melewati jalan menuju ke base camp dan malah menuju ke arah kota.

Setelah melewati jalan menanjak, akhirnya kami sampai di jalan menuju base camp di mana di kiri jalan terhampar pemandangan indahnya rona senja dan lampu kota berlatar belakang kidung azan dengan kemerduannya. Kami tiba di sebuah masjid, di sana kami memutuskan untuk Shalat magrib sembari membeli air mineral dan obat untuk mengobati luka saya. Setelah itu, kami pun langsung meluncur ke base camp. Sehari sebelumnya ketika saya bercerita kepada teman saya Firman, ia mengatakan bahwa pemeriksaan barang bawaan di base camp gunung Kembang ini sanggatlah ketat. Dan benar saja, kami tidak boleh membawa ini dan itu dan harus menggunakan ini dan itu kalau mau mendaki. Agar merepotkan, namun akhirnya kami lolos. Oh iya, ada satu rombongan yang dimarah-marahi karena dinilai tidak serius dalam membawa perlengkapan. Entahlah, mungkin saat itu penjaga atau si pemeriksa barang bawaan ini sedang mengantuk hingga langsung naik pitam. Maklum, saat itu sudah hampir jam 9 malam.

Setelah Shalat isya terlebih dahulu, kami pun berangkat dan tak lupa pak Won mengumpulkan kami untuk kemudian menyuruh kami semua untuk berdoa. Dengan tiga buah senter, yang pertama kami lewati ialah kebun teh yang luas sebelum sampai di hutan. Di pintu masuk hutan itulah kami beristirahat dan memakan bekal yang kami bawa karena perjalanan di kebun teh tadi cukup menguras tenaga. Setelah mengumpulkan tenaga dan keberanian, kami akhirnya memasuki hutan. Kami sedikit terkejut dengan trek yang kami lalui, banyak jalanan yang curam bahkan tak jarang ada tali yang terpasang untuk membantu para pendaki seperti saya dan kawan-kawan saya ini saking sulitnya. Ada suatu momen di mana kami beristirahat tanpa sekalipun berbicara, di saat itulah kami semua hidup. Mendengar hela nafas dan detak jantung kami yang terasa nikmat berbalut semilir angin malam dan kicau burung nan merdu malam itu.

Berjam-jam lamanya kami lalui untuk melewati hutan, dan kami akhirnya sampai di sabana. Masalah utama betapa leletnya perjalanan kami adalah Via. Dia yang awalnya paling bersemangat malah jadi yang paling sering mengeluh dan paling sering meminta istirahat. Sabana yang saya bayangkan adalah sabana dengan hamparan rumput hijau nan luas. Pada kenyataannya adalah sebuah tanjakan, bahkan saya masih mengingat nama tanjakannya saking curam dan seramnya. Tanjakan cinta.

Di tanjakan ini saya merangkak, benar-benar merangkak dan tidak sekalipun berani berdiri. Namun tetap semangat ketika melihat ke belakang, melihat pada kota-kota yang penuh cahaya lampu dan bertaburan kembang api.

Pagi hari sekali, pak Won membangunkan kami semua. Ia mengatakan pemandangan sedang bagus-bagusnya. Meski malas, saya akhirnya bangun dan keluar. Di depan mata saya terbentang luas seolah tak berujung, serumpunan awan putih menutupi apa-apa saja yang ada hingga ujung cakrawala. Melihat pemandangan itu saya tidak percaya. Bagaimana mungkin saya yang fobia ketinggian bisa ada di ketinggian? Ternyata, dengan usaha keras tidak ada yang tidak mungkin.

Kami turun sekitar jam sembilan pagi, setelah berburu foto pastinya. Tanjakan cinta juga tidak terlampau seram di pagi hari, orang-orang menuruninya seperti bermain perosotkan. Terlebih ketika orang-orang di bawah menyemangati, itu sanggatlah berarti sekalipun masing-masing kami tidak saling mengenal.
Pak Won yang semangat menuruni gunung bersama ketiga rekannya berjalan lebih dulu, sementara aku dan Frieska berjalan pelan karena kami cukup payah masalah stamina. Terlebih saya, saya harus menenteng tas maha besar.

Saya dan Frieska bertemu pak Won dan yang lainnya di pintu masuk menuju hutan, di sanalah akhirnya semuanya berbalik. Entah bagaimana caranya saya masih dengan stamina lemah kini ditemani Mif. Di kebun teh, kami pun acap kali beristirahat. Kadang juga berswafoto dengan ponsel pak Won yang ada di saku saya.
Saya dan Mif tiba di base camp, di sana semuanya tengah ter gelepar tak berdaya sembari memakan makanan lebaran yang memang sengaja kami bawa biar irit. Setelah istirahat cukup, kami pun memutuskan untuk berkemas dan pulang. Sungguh pengalaman yang tak akan pernah terlupakan bersama teman-teman.

Aris Setiyanto,
lahir dan tinggal di kota kecil namun indah bernama Temanggung di Jawa Tengah. Ia sangat menyukai tokoh Crayon Shinchan dan segala hal yang berbau Jepang. Novel pertamanya, Good bye Tears. Novel keduanya, Impian Semu Wiro. Saat ini masih aktif menulis di blog arisnohara.wordpress.com dan berusaha sekuat tenaga dengan hembusan angin, terus melaju terbang.



Posting Komentar

0 Komentar