Latest Articles

By / Rabu, 14 Agustus 2019 / No comments

Perihal Melepaskan Melupakan Mengikhlaskan dan Memaafkan



memuisikan, puisi curhat, kisah cinta



Melepaskan  yang Telah Tergenggam

Pernahkah kalian merasakan begitu sulitnya untuk melepaskan apa yang selama ini ada bersama kalian? Pernahkah kalian dipaksa semesta untuk mengakhiri semua yang telah terjadi? Bagaimana perasaan kalian saat itu? Apa yang kalian lakukan? Di saat semua hal yang membahagiakan harus diakhiri dengan cara yang tidak seharusnya.

Aku pernah, aku pernah dipaksa semesta untuk mengakhiri segala keindahan yang ada di hidupku. Melepaskan semua harapan dan kebahagiaan yang aku impikan. Saat itu, hatiku hancur. Pikiranku berlarian ke sana kemari. Aku seperti tidak terarah, di saat aku tahu hal yang selama ini menjadi sumber kebahagiaanku harus pergi. Malamku selalu ditemani dengan air mata yang tak terhenti. Berharap semuanya kembali utuh lagi.

Melepaskan itu sulit, terlebih harus terbiasa dengan situasi baru tanpa kebiasaan-kebiasaan yang setiap harinya dilakukan. Seperti ada bagian yang hilang dan tidak bisa ditemukan.

Kalian tahu? Melepaskan butuh keberanian. Berani merasa sepi, berani bersedih dan berani untuk membuka diri kembali. Karena sebagian orang tidak berani membuka dirinya kembali di saat sudah kehilangan. Mereka hanya akan menyesali apa yang sudah terjadi. Tanpa berani mencari kebahagiaannya lagi.

Waktu terus berjalan, aku pun mencoba membiasakan diri ini pada kehidupanku yang baru. Mencoba tersenyum dan mencari bahagia dengan hal sederhana. Menganggap bahwa semua yang terlewati adalah sebuah takdir sang ilahi. Percaya saja bahwa akan ada yang lebih baik setelah kesedihan yang dialami. Semoga yang berani melepaskan, akan mendapat hal yang lebih membahagiakan.


Perihal Melupakan

Kata orang, melupakan itu mustahil untuk dilakukan. Mau itu melupakan hal yang baik ataupun tidak. Banyak orang gagal dalam hal melupakan, apalagi untuk melupakan kenangan-kenangan yang ada di masa lalu. Mereka lebih memilih menyimpannya dengan alasan dengan mengingat hal tersebut mereka bisa tersenyum walaupun sebenarnya sedang bersedih. Padahal, itu kesalahan yang fatal bagiku. Bagiku, tak semua hal bisa kita simpan sebagai kenangan. Lupakanlah hal yang memang layak untuk dilupakan. Pertahankan apa yang pantas untuk dikenang. Karena, menyimpan hal-hal yang tidak layak disimpan hanya membuat hati ini merasa sedih dan bersalah pada hari yang lalu.

Melupakan bukan berarti membenci ataupun membatasi diri. Karena yang dilupakan adalah rasa sakitnya, bukan orangnya. Bersikap dewasalah dalam melupakan hal yang terjadi. Tidak perlu memaksakan diri, karena dengan seiring berjalannya waktu semua itu akan terhapus dengan sendirinya. Tanpa kalian sadari, hal-hal buruk yang pernah terjadi akan hilang dan yang tetap melekat dipikirkan adalah hal-hal yang mampu membahagiakan.

Tentang rindu, mungkin ia sering muncul. Rindu memaksa kita untuk mengingat segala hal yang telah terjadi. Hai... rindu itu manusiawi. Yang perlu kita lakukan adalah, bersikap sewajarnya. Rindu bukan berarti harus mengingat semua luka yang pernah tergores. Rindu sebagai pengingat bagian-bagian yang mungkin sulit untuk dilupakan atau bahkan memang untuk dikenang. Satu hal lagi, rindu bukan sebagai jalan untuk kembali mengharapkan segala yang telah sirna. Hanya sebagai pengobat hati.

Untuk kalian yang berusaha melupakan, tolong jangan memaksakan. Ikuti saja jalan hidup kalian. Jika kalian berhasil merasakan kembali bahagia yang hilang, itu artinya kalian berhasil juga melupakan rasa sakit yang pernah datang.


Belajar untuk Mengikhlaskan

Hanya orang-orang hebat yang mampu mengikhlaskan sesuatu pergi. Mereka yang dengan tegarnya tersenyum melihat segala kebahagiaannya hilang dan pergi. Mereka yang tak pernah berucap “Saya Ikhlas” adalah orang-orang yang mampu mengendalikan segala kondisi yang terjadi. Membiarkan dirinya merasakan sakit sendiri, menahannya sendirian dan memilih untuk menyembuhkan hati seorang diri tanpa ada yang dilibatkan.

Ikhlas itu sulit. Bahkan sampai saat ini, hatiku masih memberontak ketika melihat hal yang menjadi sumber rasa sakitku. Mungkin hati ini masih belum bisa menerima kenyataan yang ada. Berat rasanya, jika harus berpura-pura tegar dan bersikap seakan-akan semuanya indah. Padahal yang terjadi, hati ini menangis lirih.

Ikhlas juga tidak bisa ditentukan oleh orang lain, bagaimana kalian tahu bahwa kalian telah mampu mengikhlaskan segala yang terjadi? Menurutku, di saat kalian mampu menjalani hari-hari kalian seperti biasanya tanpa ada rasa sedih dan kecewa. Satu hal lagi, saat kalian mendengar seseorang menyebut namanya atau bertanya tentang segala hal yang lalu dan kalian mampu menjawabnya dengan senang dan tersenyum.

Kalian percaya? Bahwa segala sesuatunya yang pergi akan digantikan dengan yang lebih baik. Maka dari itu, jangan pernah takut untuk melepaskan dan kehilangan sesuatu. Barangkali hal itu bukan yang terbaik untukmu. Karena kebanyakan, orang yang datang hanya singgah bukan untuk menetap.


Munafikkah Aku?

Kalian sebut apa untuk mereka yang berbicara “aku sanggup” namun pada kenyataannya mereka tidak benar-benar menyanggupinya? Karena sebenarnya mereka hanya ingin menutupi segala hal yang menyakitkan hatinya dan terlihat seperti bahagia.

Seperti halnya aku, aku yang saat ini sedang menutupi segala kesedihanku hanya karena tidak ingin orang lain mengetahuinya. Aku berkata “aku tidak ingin, aku tidak rindu” padahal, kenyataannya aku sangat ingin dan sangat merindukannya. Aku yang berkata “aku ikhlas dan aku bahagia” namun yang sebenarnya terjadi adalah aku sama sekali tidak ikhlas dan tidak bahagia dengan apa yang terjadi.

Seseorang berkata padaku “jangan munafik, ungkapkan saja apa yang sebenarnya terjadi”. Tapi sulit untukku, sulit rasanya untuk aku bersikap sama seperti yang aku rasakan. Karena aku hanya tidak ingin menyakiti diri ini terlalu dalam lagi. Walaupun banyak orang yang mengatakan bahwa memendam dan membohongi diri sendiri itu lebih menyakitkan daripada kita harus mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Huh... sungguh rumit ternyata.

Aku yang hanya wanita biasa, mengagumi kamu yang banyak dikagumi oleh wanita-wanita yang luar biasa. Walaupun kamu pernah ada, tapi untuk saat ini kamu hilang entah ke mana.

Munafikkah aku? Jika sebenarnya aku ingin sekali memilikinya, namun aku mengatakan tidak membutuhkannya.

Munafikkah aku? Jika sebenarnya aku sangat merindunya, namun aku mengatakan aku tidak ingin lagi bertemu dengannya?


Memaafkan Segala Hal yang Pernah Terjadi

Guruku pernah berkata “jangan malu untuk mengungkapkan 3 hal. Yaitu Tolong, Maaf dan Terima Kasih”. Sejak saat itu, aku mencoba untuk melakukannya. Namun ternyata, bukan sekedar kita meminta tolong namun kita juga harus bisa menolong. Bukan hanya meminta maaf ketika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain namun kita juga harus mampu memaafkan orang lain saat orang tersebut melakukan kesalahan terhadap kita.

Hanya orang-orang yang memiliki hati dan berjiwa besar, yang mampu memaafkan dengan ikhlas. Karena sebagian orang masih senang menyimpan dendam hanya karena hati atau fisiknya tersakiti. Padahal, jika kita mampu memaafkan kesalahan orang tersebut hati kita akan terasa lebih damai dan bahagia. Memaafkan segala hal yang pernah terjadi dalam hidup ini memang bukan perkara mudah. Aku mengakuinya. Karena sampai detik ini, aku belum bisa memaafkan seseorang yang telah menyayat hatiku begitu dalam. Hingga luka yang ada sulit untuk dipulihkan. Terlebih jika sumber kesakitan tersebut berasal dari orang yang kita anggap spesial dan begitu berharga dalam hidup kita.

Seseorang yang kita beri kepercayaan bahwa dia mampu menjaga perasaan kita dengan baik. Pada kenyataannya dia juga orang yang merusak kepercayaan itu. Merusak segala perasaan indah yang dia ciptakan sendiri. Membuang segala hal berkesan yang pernah terjadi. Dia juga yang mampu dengan mudahnya melupakan segala yang telah terucap. Dia yang dahulu selalu berkata manis, dia yang dahulu selalu membuat senyum ini merekah dan dia yang dahulu selalu menciptakan hal-hal tak terduga. Kini menjadi orang yang begitu keras untuk melupa. 





Haniq Setyaningrum
memiliki nama pena Setya Sastra, lahir di Jakarta, 10 September 2000. Tinggal di Jalan Karet Pasar Baru Barat I Rt 06/rw 07 no.43  Jakarta Pusat. Bersua maya melalui Email haniqsetyaningrum01@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow @memuisikan

About Me

Instagram

Sidebar Posts

Popular Posts

Category