Latest Articles

By / Rabu, 21 Agustus 2019 / No comments

Sinau: Tahapan menulis puisi

pedoman menulis puisi



Belakangan ini saya menemukan orang-orang yang tiba-tiba menjadi puitis; dalam status facebook, twitter dan sosial media lainnya.  Di dunia denga arus informasi yang sangat cepat ini tidak heran jika kembalinya Rangga dalam Film Ada Apa Dengan Cinta 2, menjadi trend tersendiri, ya trend menjadi Rangga itu sendiri. Suatu keadaan untuk mendadak puitis yang telah di rindukan selama 14 tahun, ingat 14 tahun. Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra, pada film AADC2 Rangga pun kembali membaca puisi, kali ini puisi karya M. Aan Mansyur. Puisi itu di bacakan selama 30 detik, dengan latar belakang pertemuan Rangga dan Cinta.

 Berikut penggalan puisi tersebut.
Resah di dadakuDan rahasia yang menanti di jantung puisi iniDipisah kata-kata, begitu pula rinduLihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.
Tidak heran tentunya jika adegan Rangga membaca puisi ini kemudian menjadi heboh, dan menjadi perbincangan hangat di sosial media. Tidak sedikit yang kemudian terinspirasi, termotivasi untuk menciptakan puisi, untuk menjadi Rangga, menjadi puitis. Sesuatu yang luar biasa.

Namun apakah semudah dan seindah yang ada dalam adegan tersebut dalam menciptakan puisi? Apakah kita bisa menjadi sepuitis Ranga? Lalu apa yang bisa kita  lakukan untuk menjadi puitis? Untuk mampu menciptakan kata-kata indah seperti puisi yang di bacakan Ranga? Apakah Ranga yang menjadikan puisi itu begitu mengebu-gebu di diri Anda? Ada apa dengan Anda, mengapa Ranga?

Dalam proses menciptakan puisi, Aan melakukan riset bagaimana dengan Anda? Ini yang ingin saya bahas. Jika Anda benar-benar ingin menjadi puitis ala Ranga, maka lakukan riset, riset terhadap diri Anda sendiri. Apakah Anda benar-benar ingin memiliki kemampuan mengungkapkan perasan dalam susunan kata-kata indah. Jika tidak, maka cukuplah Anda menjadi penikmat saja, menjadi pengagum Ranga, sudah selesai. Toh dengan begitu sebenarnya Anda sedang belajar untuk memahami puisi, dari lapisan luar sebagai penikmat.

Saya tidak menyalahkan Anda untuk kagum terhadap Ranga, di sini saya hanya ingin mengajak Anda (setidaknya diri saya sendiri) untuk memahami sedikit saja bahwa menjadi puitis ala Ranga bukan perkara mudah. Sepeti kita ketahui bersama, dalam proses pembuatan puisinya, Aan Mansyur melakukan riset tentang perasaan Rangga.

Aan mencoba memahami perasaan Ranga yang pada film AADC1 yang tinggal di Jakarta dan kemudian karena suatu hal Ranga mau tidak mau harus pindah ke New York. Aan banyak membaca buku tentang New York, juga mencoba menangkap gambaran kota tempat tinggal Ranga itu melalui foto-foto yang di upload orang-orang tentang New York. “Suasana semacam apa yang bisa dia rasakan ketika dia kangen tanah airnya atau orang-orang yang dia cintai di negaranya, tapi dia harus tinggal di New York. Saya mengikuti sejumlah akun Instagram orang-orang yang memotret Kota New York supaya saya bisa lihat warna-warninya,” Ungkap Aan.

Agar kita tidak menjadi bagian yang latah puitis ala Ranga, tidak ada salahnya jika kita mencoba mempelajari dan masuk menjadi penulis puisi Ranga, coba kita merasakan menjadi Aan. Jangan kedaleman tapi ya merasakannya. Ndag nanti baper :p.

Tahapan menulis puisi
Tulisan selanjutnya boleh di baca hanya untuk Anda yang benar-benar serius untuk menjadi Ranga, eh salah maksud saya benar-benar ingin belajar menulis puisi. Sebelum memulai menulis puisi kita harus tahu terlebih dahulu tahapan-tahapan dalam menulis puisi.

Utami Munandar (2009) mengemukakan bahwa kegiatan menulis puisi dapat dilaksanakan melalui tahap-tahap sebagai berikut:

Tahap preparasi, dilaksanakan kegiatan pengumpulan data atau informasi yang akan dijadikan bahan penulisan.
Tahap inkubasi, dilaksanakan dalam usaha mematangkan ide-ide yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya.
Tahap iluminasi, merupakan tahap pelahiran ide, gagasan atau pengalaman ke dalam bentuk puisi.
Tahap verifikasi, yaitu kegiatan menulis puisi, hasil karya sendiri.

Sebelum seorang penyair berhasil menciptakan sebuah puisi,maka pada umumnya akan melewati sejumlah tahap. Utami Munandar ( 1993 ) menyimpulkan ada 4 tahap dalam proses pemikiran kreatif,yang juga berlaku dalam  proses penciptaan karya sastra,termasuk puisi.
Mari kita bahas satu persatu tahapan-tahapan tersebut.

1.       Tahap persiapan dan usaha atau tahap riset.
Pada tahap yang pertama ini, sebelum kita menulis puisi kita perlu untuk  mengumpulkan informasi dan data yang di butuhkan. Menurut Utami Munandar (1993) Makin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki seseorang mengenai masalah atau tema yang digarapnya,makin memudahkan dan melancarkan perlibatan dirinya dalam proses tersebut.

Tahap pertama ini menandai tergeraknya seseorang untuk menulis apa saja yang dia alami dalam wujud puisi. Namun puisi yang baik adalah puisi yang memiliki nilai, artinya walaupun kita bebas untuk menciptakan puisi ada baiknya kita melakukan riset agar nantinya puisi itu memiliki data dan informasi yang tepat untuk di sampaikan.

2.       Tahap inkubasi atau pengendapan.
Tahapan yang kedua adalah tahapan untuk mengendapkan semua informasi dan pengalaman yang di butuhkan. Pada tahap ini penulis harus berusaha melibatkan diri sepenuhnya untuk menimbulkan ide-ide sebanyak mungkin. Pada tahap ini di perlukan waktu untuk mengendapkan semua gagasan tersebut,di inkubasi dalam alam prasadar.

Pada tahap ini akan melakukan empati bagaimana seandainya kita sendiri yang mengalaminya. Di sini berarti kita sedang inkubasi hasil riset kita terhadap suatu peristiwa atau keadaan di luar diri kita, yang mungkin di alami oleh orang lain. Pun demikian ketika kita hendak menulis puisi tentang perasaan kita, proses pengendapan ini di perlukan untuk memperdalam lagi apa saja yang akan kita tuang dalam wujud puisi.

3.       Tahap iluminasi
Pada tahap ini kita akan memcoba mengekpresikan masalah dalam sebuah puisi. dalam mengekpresikan ide atau gagasan puisi dibutuhkan keterampilan berbahasa karena bahasalah yang akan di gunakan sebagai media ekpresi. Semakin sering kita menulis puisi,maka akan terampil mengekpresikan puisi dalam bahasa yang indaah yang estestis.

Tahap iluminasi ada yang perlu kita perhatikan,yaitu yang berkaitan dengan sifat ekpresi puisi secara keteristik berbeda dengan prosa. Mengenai hal ini A.W de Groot ( dalam Slametmuljana,1956 ) pernah mengatakan sebagai berikut.
Perbedaan pokok antara prosa ;
a.      Kesatuan- kesatuan korespondensi prosa yang berpokok adalah kesatuan sintaksis,kesatuan korespondensi puisi resminya- bukan kesatuan sintaksis-kesatuan akustis.
b.      Didalam puisi korespondensidari corak tertentu,yang terdiri dari kesatuan-kesatuan tertentu pula,meliputi seluruh puisi dari semula sampai akhir,kesatuan itu disebut baris sajak.
c.       Di dalam baris sajak ada periodositas dari mula sampai akhir.

Di samping itu, perlu juga di perhatikan perbedaan prosa dan puisi yang berkaitan dengan kadar kepadatan ekpresinya.ekpresi puisi bersifat padat. Sementara prosa tidak,seperti yang dikemukakan oleh Pradopo ( 1990 ) bahwa puisi itu hasil aktivitas yang memadatkan,sedangkan prosa hasil aktivitas yang menyebarkan.

4.       Tahap verifikasi
Tujuannya dari verifikasi adalah untuk menghasilkan suatu karya yang siap untuk dikomunikasikan. Pada tahap ini kita sebagai pengarang, mencoba mengambil jarak, kita melihat seperti sudut pandang orang lain, sehingga dapat memberikan tinjauan  secara kritis dan jujur.

Jika di rasa ragu atau kesulitan dengan verifikasi secara mandiri akan lebih baik dan justru sangat di sarankan untuk melakukan verifikasi puisi kita oleh orang lain. Verifikasi ini dengan cara membahas atau mendiskusikannya dengan orang lain untuk mendapatkan masukan bagi penyempurnaan karya tersebut maupun karya selanjutnya. Kita harus tahan kritik di sini, jangan menang sendiri atau mengangap benar. Sebab masukan dari banyak orang yang akan membangun kita lebih baik.

Okey saya kira sudah cukup, bagaimana apakah Anda akan menjadi Rangga bagi kehidupan Anda ? Sudah dapat gambaran, mari lakukan, mari mencoba tahapan-tahapan yang ada. Dari uraian di atas setidaknya kita sudah sedikit menambah pengetahuan,  bahwa proses penulisan sebuah puisi melalui beberapa tahap.

Namun perlu menjadi catatan bahwa tahap-tahap tersebut pada dasarnya bersifat teoritis. Karena ide yang dapat di tulis menjadi puisi dapat muncul kapan saja, dan Anda dapat menulis puisi seketika itu juga. Pun demikian para penyair profesional tahap-tahap itu tidak selalu di ikuti dengan ketat atau seluruhnya dilalui. Maka tahapan terpenting adalah mulai melakukannya. Ya memulainya adalah tahapan yang terpenting.

Terimakasih, salam.

Ryan Ari RapPetani dan Penikmat Kopi, mengisi waktu senggang menulis dan baca puisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow @memuisikan

About Me

Instagram

Sidebar Posts

Popular Posts

Category