Latest Articles

By / Rabu, 11 September 2019 / No comments

Puisi Catatan Gelap - Choimoza


memuisikan, puisi cinta


Catatan Gelap
Tanganku gemetar.
Sedikit gemetar.

Raih tanganku.
Meski aku ketakutan.
Tetap dan jangan ragu.

Kemarin aku terperosok dalam lumpur pekat dan aku semakin takut.
Di masa depan aku merasa takut kehilangan padahal tidak benar-benar hilang..
Dan sekarang aku cuma ingin tetap raih tanganku dan jangan ke mana-mana.

Aku terlalu takut untuk mengeja bahkan menatap mata.
Aku terlalu takut dan semakin takut.

Aku terduduk di pojok kamar dan menangis tersedu seperti anak kecil yang kehilangan ibu.
Menangis dan terus menangis hingga lelap.

Dan melupa.
Melupa.
Melupa.

Melupa.
Hingga jadi binasa.

21/08/19



KOSONG

kuketuk-ketuk mejaku.
Menunggu teh hangat pesananku datang.
Kugoyangkan kaki. Lalu memainkan jari kembali.
Ada satu buku di depan mataku.
Kurasa itu tidak menarik.
Tapi kucoba membuka per lembar.
Ada satu tulisan berjudul catatan gelap.

Yang kuingat. Hanya ada kata melupa.
Melupa,
melupa hingga jadi binasa.
Kubuka lembar berikutnya.
Hanya ada lembar kosong.

Sialnya. Aku semakin tenggelam di lembar kosong itu.
Tenggelam.
Tenggelam.
Dalam bayang sebuah kebinasaan.

Sampai aku ingat.
Aku gadis yang menangis di pojok kamar.
Sebab kehilangan.

Tenggelam.
Dan aku semakin tenggelam.

22/08/19



BLUR

Tidak terlihat jelas.
Di mataku tampak sebuah bekas sayat pisau di telapak tangan.
Memar.
Juga membiru.

Esok pasti membaik.
Dan kembali seperti semula. "Kata gadis kecil yang berusaha mengakhiri hidupnya."
Amarah bermunculan dari sepasang matanya.
Tubuhnya mulai lunglai kehabisan daya ingat.

Mati
Mati
Dan mati.

Ingatan tidak berhenti.
Matanya mengerjap.
Lalu melihat sekeliling.
Apa aku sudah di surga "Katanya lirih"
Surga macam apa yang pantas untukku
Ruangan terlampau terang.
Dengan tangan terikat. Juga kaki tak kalah rasa berat.

Bius.
bius.
bius.
Teriak salah satu suster.

Dan bangunlah nak.
Esok kau tak akan menerima rasa sakit lagi.
Bangunlah nak.
Esok kau damai bersama ibu.
Bangunlah.
Esok kita bersama tanpa ada hal yang memberatkanmu.

23/08/19



Hilang

Beberapa hal selalu membuat otakku mencerna kata hilang.
Sudah cukup berapa banyak aku kehilangan.
Setidaknya kehilangan diri sendiri.
Ingin kumenyayat pergelangan tangan dengan pisau yang telah terasah tadi pagi.

Dalam perjalanannya.
Ada hal-hal yang kerap mendorong sebuah kata mati.
Beberapa hal lagi mengatakan.
Hiduplah dengan lebih baik.

Aku ingin mengikuti suara-suara itu.
Brengseknya.
Aku selalu iri dengan sebuah kematian.
Tentang bagaimana rasanya mati.
Tidak merasa menahan beban lagi.
Tapi aku mengingat.
Tentang akibat sebuah kehilangan.

Matilah dengan tenang.
Tapi ingat beberapa hal.
kau mati.
Orang yang menyayangimu juga mengalami kematian.
Dengan kata "hilang"

11/09/19



KUNANG-KUNANG

Aku melihat kunang-kunang di langit.
Di lampu merah.
Di pinggir kota.
Di tepi jalan.
Di trotoar.
Di mana-mana ada.

Aku melihat bintang bergantungan di payung ratap manusia.
Satu harapanku hilang berubah jadi kunang-kunang.
Ah aku tau sekarang.
Kenapa aku melihat kunang-kunang penuh di langit malam.

Mereka terbang.
Mereka melayang-layang.
Esok lebam. Siang remuk. Malam merebah.
Terbang.
Menjadi kunang-kunang.

Kata nenekku. "Kunang-kunang terlahir dari arwah"
Kataku iya.

Sekarang aku mengerti.
Mereka terlahir dari arwah dan jiwa-jiwa mati.
Setidaknya oleh harapan.
Dan impian berpendar. Juga terbang kembali.

16/08/19


Choimoza, panggil saja Moza penikmat musik, buku minuman hangat dan senyuman. Dapat bersua maya melalui: https://www.instagram.com/choimoza



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow @memuisikan

About Me

Instagram

Sidebar Posts

Popular Posts

Category